Dibalik perjalanan ke Solo
Dalam tulisan sebelumnya, saya menceritakan tentang acara dalam Linux Release Party di UNS, untuk tulisan ini saya ceritakan kisah-kisah menarik dibalik perjalanan kami ke UNS pulang-pergi.
Dimulai ketika malam sebelum hari-H, saya dan Radit merencanakan perjalanan ke UNS bersama seorang teman, jadi kami bertiga. Radit dan temannya berencana berangkat dari kos jam 8 pagi, lalu menjemput saya, harusnya sekitar jam 8.20 sudah sampai rumah saya. Pagi harinya, saya tunggu sampai hampir jam 9, kok belum ada kabar dari Radit, wah sesuai perkiraan ni molornya..hehe…ternyata teman Radit itu susah dihubungi, baru kuketahui setelah pulang dari Solo bahwa dia ketiduran & HP nya di -charge..hehe..Kamipun berangkat berdua.
Sampai di Solo, kami baru sadar bahwa tidak ada yang pernah ke UNS sebelumnya..hehe…dan dasar orang teknologi, kami pun tidak bertanya orang lain tapi bertanya ke GPS. Awalnya agak susah juga nyari UNS di peta, tapi asal coba-coba sajalah. Kami berboncengan menelusuri jalan dengan saya sebagai penunjuk jalan dibelakang (tentunya dengan bantuan GPS). Hal itulah yang menyebabkan kami sampai di UNS sudah jam 11.30, terlambat 2,5 jam dari acara awal, tapi bukan masalah, kan tamu undangan :D.
Kami pun mengikuti acara yang diadakan di Gedung A FKIP UNS lantai 2 tersebut. Menurut jadwal, acara selesai pukul 15.00, tapi sudah pukul 15.30 acara belum selesai, padahal saya harus pulang ke jogja sedangkan Radit juga pulang ke asalnya..hehe…akhirnya kami minta ijin pada panitia untuk meninggalkan acara sebelum selesai. Sebelumnya sempat nyari info tentang stasiun terdekat dan jadwal kereta Pramex, maklum saya ke jogja sendiri. Stasiun Solojebres ternyata cukup dekat dengan UNS, dan jadwal Pramex terdekat berangkat pukul 16.05, saat itu sudah jam 15.40, kami pun bergegas pergi, walaupun belum tahu arah stasiunnya. Kembali bermodal GPS, nekat lagi asal menelusuri rel kereta api, alhamdulillah ketemu juga stasiunnya. Radit pun meneruskan perjalanan melewati hutan belantara (kata dia lho), sedangkan saya berlari mengejar kereta Pramex yang sudah akan berangkat.
Ketika sampai di stasiun, tanpa melihat jam, langsung menuju loket kemudian bergegas masuk kereta yang sudah menunggu. Baru setelah duduk, lihat jam, alhamdulillah masih menunjuk 16.00…lega juga…Sesaat agak heran, sabtu sore begini kok keretanya sepi ya, ah tapi tidak kupikir lagi, capek.
Sampai di SoloBalapan, ternyata penumpang naik banyak sekali, ditambah lagi di stasiun Purwosari, dan akhirnya saya pun berdiri (di karcis tulisannya tanpa tempat duduk kok). Kereta pun berisi penuh penumpang, sampai berdiri pun penuh, jadi teringat almarhum kereta legendaris Purbaya yang sering saya gunakan dulu waktu kecil untuk ke rumah eyang. Tapi ada hiburan juga, bayi sekitar 10 bulan di samping yang lucu dan imut-imut..hehe
Tak terasa kereta telah sampai di Kalasan, dan saya merencanakan turun di Stasiun Maguwo (dekat bandara). Ketika kereta berhenti dan pintu terbuka, saya luar biasa kaget. Penumpang yang akan naik buanyak sekali!! Padahal kereta sudah sesak begini!! Sesaat mencium ada yang tidak beres. Setelah melewati desakan-desakan puluhan manusia di kereta, alhamdulillah bisa keluar juga.

Karena kereta sudah penuh sekali, akhirnya tidak semua penumpang bisa naik, dan memilih menggunakan bus. Suasana sempat chaos karena pihak stasiun sepertinya tidak memperkirakan kondisi semacam ini. Tetapi kasihan juga balita dan anak-anak jika harus berdesak-desakan di kereta. Kereta pun berangkat menyisakan bergelintir orang yang harus menerima kenyataan tidak diangkut kereta.
Penasaran, saya menemui Kepala Perjalanan Stasiun Maguwo untuk bertanya tentang hal yang barusan terjadi. Beliau menjelaskan bahwa para penumpang yang akan naik tersebut adalah rombongan dari Salatiga yang hendak menuju Solo. Lho, saya kaget, mau ke Solo kok naik kereta menuju Jogja? Ternyata itu strategi dari beliau. Jadi, rombongan ikut ke Jogja biar ketika kereta balik ke Solo, mereka sudah dapat tempat duduk begitu. Wah pinter juga bapak ini..hehe….Rombongan tersebut datang tiba-tiba ke stasiun tanpa pesan tiket terlebih dahulu, padahal jumlahnya banyak sekali, klo tidak salah 1 bus besar. Hal itu yang menyebabkan pihak stasiun agak panik, kata beliau. Harusnya kan ada pemberitahuan dulu kalau rombongan seperti itu. Resikonya, tidak semua bisa diangkut.

Setelah semua jelas, saya meninggalkan stasiun menuju shuttle trans jogja. Saya datang bersamaan dengan trans jogja 1A menuju prambanan, yang akan saya naiki, datang. Dengan tergesa-gesa saya beli tiket, tapi di ruang tunggu sesak calon penumpang. Petugas memberi kode “Prambanan…prambanan…”, saya sudah jawab “Prambanan pak..” sambil melewati desakan penuh orang di ruangan. Tetapi, petugas tidak mendengar dan bus pun meninggalkan tempat beberapa mili detik sebelum saya sampai depan pintu…waduh…yang saya heran kenapa calon penumpang lain tidak meneruskan jawaban saya…malah setelah bus pergi, bapak-bapak di dekat pintu tersenyum pada saya, mungkin beliau berpikir, kasian banget ni orang. Alhamdulillah setelah 5 menit, bus 1A datang, dan dengan langkah mantap saya menuju bus sambil berucap dalam hati, saya duluan ya mas mbak pak bu :P
Sampai rumah, masih sempat nulis 2 artikel, sebelum tertidur di depan laptop.
Sekian, semoga bermanfaat.