Bukan salah sopir bus kota
Mungkin banyak yang tidak setuju dengan pendapat saya ini. Tetapi hal inilah yang jadi pemikiran selama beberapa waktu. Bagi kita yang belum pernah merasakan naik bus kota (dalam hal ini saya ambil bus kota di yogyakarta, tempat saya tinggal), mungkin tidak bisa merasakan secara persis apa yang akan saya utarakan.
Bus kota, bagi sebagian kalangan mungkin menjadi semacam penyebab kemacetan di jalan raya karena seringnya berhenti di sembarang tempat untuk menaikkan/menurunkan penumpang. Tentu saja hal tersebut sangat mengganggu pengguna jalan lain. Selain itu, asap knalpot dari bus kota memang sangat pekat dan menjadi kontributor polusi udara yang utama. Badannya yang besar ditambah gaya mengendarai sopirnya yang menurut orang kadang membahayakan, menjadi bumbu penyedap bagi kalangan yang tidak menyukainya. Tetapi, coba kita lihat sisi yang lain.
Andaikan Anda menjadi sopir bus tersebut, atau setidaknya membayangkannya, pasti pandangan Anda akan lain. Hal inilah yang saya amati ketika menjadi penumpang setia bus kota. Kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan sopir bus dalam kondisi semacam ini. Terbukti dari pengamatan saya, JUSTRU PENUMPANGlah yang berperan besar dalam menyebabkan kondisi ini terjadi. Banyak penumpang yang tidak memperhatikan tempatnya naik atau turun dari bus. Kadang ada penumpang yang men-stop bus di daerah yang rawan macet, maupun ketika bus sedang dalam kondisi yang susah untuk menepi. Jika menjadi sopir, apa yang Anda pikirkan waktu itu?? Antara berusaha mengejar setoran dan mengacaukan lalu lintas….sebuah pilihan yang sulit saya rasa.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada beberapa sopir bus yang memang cara mengemudinya cukup berbahaya, tetapi hal itu tidak bisa kita generalisasi. Menurut saya, kita tak bisa sepenuhnya menyalahkan sopir bus tapi juga tak bisa sepenuhnya menyalahkan penumpang. Yang mau saya tekankan disini adalah bahwa PENUMPANG BUS PUN TURUT BERTANGGUNG JAWAB atas kemungkinan terjadi kemacetan atau permasalahan lalu lintas.