Jun 22

Secara tidak sengaja, saya menemukan sebuah artikel menarik tentang Al-Khawarizmi, seorang matematikawan muslim yang sangat berjasa dalam perkembangan ilmu matematika. Artikel yang saya baca ini memiliki judul yang sangat menarik : Dengan Aljabar Kau Kulamar. Disana diceritakan sedikit tentang sejarah dari Al-Khawarizmi, bagaimana beliau menjadi sangat terkenal dan berjasa besar.

Jika kita mengacu pada kenyataan di lapangan, memang tidak dapat dipungkiri bahwa bidang matematika adalah ilmu yang menjadi background dari semua ilmu sains, baik fisika, kimia, bahkan biologi sekalipun. Sebagaimana yang terdapat dalam artikel yang saya rujuk diatas, bahwa ada guyonan tentang matematika.

Orang yang pandai dalam matematika, biasanya menjadi insinyur atau pilot. Kemudian bagi yang sedang-sedang saja biasanya menjadi pedagang, sedangkan yang lemah menjadi politisi. Memang hal itu hanya sebagai guyonan, tidak bermaksud menyinggung. Tetapi bila dipahami lebih lanjut, dapat kita lihat bahwa matematika merupakan ilmu yang menjadi dasar. Sering saya mendengar beberapa celotehan, baik dari teman maupun saudara, bahwa jika kemampuan matematika seseorang itu bagus, maka ilmu-ilmu yang lain (terutama ilmu sains) juga pasti bagus dan biasanya orang tersebut juga tergolong cerdas, kalau tidak bisa disebut jenius. Setelah dipikir-pikir, ternyata ada benarnya juga walaupun memang ada pengecualiannya untuk beberapa tipe orang.

Kembali ke Al-Khawarizmi.

Salah satu kehebatan Al-Khawarizmi yang membuat beliau sangat dikenal adalah bahwa beliau berhasil menggabungkan antara ilmu geometri Yunani dan arimetika India. Pada masa Yunani kuno, para ahli matematika disana lebih suka berfilosofi dalam menggunakan ilmu geometri, sehingga mereka tidak mau ambil pusing dengan hal-hal yang dianggap rumit. Misalnya adalah bahwa mereka telah mampu mengetahui hubungan antara jari-jari lingkaran dan luas lingkaran, yaitu pi, tetapi mereka tidak mau ambil pusing tentang nilai pi yang kemudian mereka sebut dengan bilangan trancendental (hanya Tuhan yang tahu). Sedangkan di India, perhitungan aljabar disana tidak digunakan untuk menyelesaikan perhitungan-perhitungan yang rumit. Nah, disinilah kemudian Al-Khawarizmi menggabungkan kedua ilmu tersebut.

Tentu kebanyakan dari kita telah tahu bahwa karya terbesar dari Al-Khawarizmi adalah sebuah buku perhitungan menggunakan angka India, tentang bagaimana menjumlah, mengurangi, mengalikan, dan membagi. Lambat laun, cara berhitung Al-Khawarizmi tersebut terkenal dengan nama algorizmus atau algoritma. Sedangkan buku yang lain, berjudul Aljabar wa al-Muqobalah, berisi tentang persamaan-persamaan beserta penyelesaiannya, yang kemudian terkenal dengan ilmu Aljabar hingga sekarang.

Bahkan, karena prestisiusnya ilmu Aljabar tersebut, pada masa rennaisance di Eropa, orang bisa melamar gadis dengan mengajar Aljabar. :D

Referensi : http://www.khabarislam.com

Leave a Reply

preload preload preload